Jumat, 14 Januari 2011

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS SENI BUDAYA (PTK) MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGGAMBAR PERSPEKTIF DENGAN TEKNIK LACAK GAMBAR MELALUI KERJA KE

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Permasalahan yang sering timbul dalam pembelajaran menggambar perspektif adalah keluhan anak karena rumitnya garis yang membalut bentuk benda yang diperagakan guru. Guru terkesan tidak mengindahkan kemampuan siswa dalam hal pengamatan gambar perspektif. Mereka kurang sabar dalam membimbing siswa. Sehingga faktanya siswa sering menganggap bahwa materi ini rumit dan sulit sekali. Akhirnya tidak jarang, pembelajaran ini sering ditinggalkan begitu saja oleh guru yang bersangkutan dengan alasan demi terkondisinya pelajaran seni budaya yang nyaman-nyaman saja.
Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis berkeyakinan bahwa dengan metode melacak gambar bisa dijadikan cara untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman peserta didik dalam menggambar perspektif. Dari cara tersebut anak menjadi faham asal-usul gambar yang dikerjakan. Dengan demikian tidak sadar, mereka akan menemukan teori menggambar perspektif yang selama ini dianggapnya sulit dan rumit.
1.2 DEFINISI OPERASIONAL
Melacak gambar adalah kegiatan yang dilakukan siswa terhadap gambar bentuk perspektif yang diberikan guru. Dalam kegiatan ini siswa melacak garis-garis perspektif dengan penggaris, dilakukan secara berkelompok dengan teman sebangku. Tujuannya adalah mencari asal-usul bentuk gambar perspektif untuk digambar ulang dalam bentuk yang sama (reproduksi).
1.3. PEMBATASAN MASALAH
Penelitian ini berfokus pada gambar perspektif dengan teknik melacak gambar perspektif yang sudah jadi, untuk dicari asal - usul gambar perspektifnya. Fokus penilaian dilakukan pada proses dan hasil karya siswa. Hal ini untuk mengetahui kualitas pembelajaran, yang dilakukan guru dalam upaya mengukur daya serap terhadap teori yang diujicobakan dalam penelitian ini.
1.4. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah dengan teknik lacak gambar , siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman dapat meningkatkan keterampilan menggambar perspektif?
2. Bagaimanakah penerapan laacak gambar untuk meningkatkan prestasi menggambar perspektif siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman?
3. Apakah dengan teknik lacak gambar, pembelajaran perspektif di kelas VIII SMPN 2 Kauman minat siswa meningkat?

1.5. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan keterampilan menggambar perspektif bagi siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman Tahun Pelajaran 2010-2011
2. Mendeskripsikan implementasi menggambar perspektif dengan teknik lacak gambar
3. Meningkatkan minat menggambar perspektif bagi siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman Tahun Pelajaran 2010-2011

1.6. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian yang akan dilakukan diharapkan memberikan manfaat kepada
a. Guru yang bersangkutan
Sebagai tambahan literasi model pembelajaran, dan alat evaluasi diri terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga mendapatkan metode yang ideal terhadap materi yang akan disampaikan kepada siswa
b. Bagi Siswa
Penerapan teknik lacak gambar sangat berguna untuk mempermudah siswa memahami teori menggambar perspektif. Diharapkan setelah mereka mengetahui teknik menggambar perspektif, siswa dapat menggambar bentuk perspektif dengan model yang bervariasi.
c. Bagi Lembaga
Dengan terlaksananya penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh sekolah sebagai inspirasi bagi guru yang lain agar dapat digunakan sebagai masukan untuk penelitian pembelajaran di kelas.
KAJIAN TEORI
2.1. PENGERTIAN PERSPEKTIF
Menurut Leonardo da Vinci, perspektif adalah sesuatu yang alami yang menampilkan yang datar menjadi relief dan yang relief menjadi datar. Perspektif adalah suatu sistem matematikal untuk memproyeksikan bidang tiga dimensional ke dalam bidang dua dimensional, seperti kertas atau kanvas. Kata “Perspektif” berasal dari kata bahasa Itali “Prospettiva” yang berarti “gambar pandangan”.
2.2. PRINSIP DASAR PERSPEKTIF
Dalam penggambaran perspektif terkonstruksi, diumpamakan bahwa pengamatan obyek berasal dari satu titik pandang. Yaitu titik tempat pengamat berdiri memandang obyek. Sudut dipersempit secara relatif, dan dengan cara ini garis-garis lurus akan tetap lurus dan menghasilkan gambar perspektif yang tidak terdistorsi.
2.3. ISTILAH DALAM KONSTRUKSI PERSPEKTIF
a. Objek
Objek yang berbentuk garis lurus, siku dan teratur, sangat mudah digambar. Sisi objek yang semakin hidup atau berbentuk tidak teratur, semakin sulit untuk digambar. Kesulitannya pada ketidakaturan objek tersebut. Untuk penggambaran- nya dibutuhkan ketepatan dalam gambar tampak atas, muka dan samping.
Sering dijumpai gambar perspektif dengan satu sisi vertikal atau satu rusuk vertikal objek menempel pada bidang gambar; dengan demikian didapatkan garis vertikal pada gambar perspektif, yang menjadi pedoman langsung bagi ukuran sebenarnya.
b. Titik pandang
Titik pandang merupakan tempat pengamat berada. Semakin jauh pengamat berada dari objek, semakin luas pula areal yang mampu dipandang pengamat.
c. Bidang gambar
Bidang Gambar adalah bidang khayal yang tembus pandang untuk melihat ke daerah yang akan digambar. Bidang gambar dapat divisualisasikan sebagai kaca rak -sasa yang berdiri tegak antara pengamat dan daerah yang akan digambar.
d. Kerucut pandang dan sumbu pandang
Untuk menghindari distorsi gambar, jarak antara pengamat dan objek diatur oleh sudut pandang, yaitu sudut pada titik pandang yang dibentuk oleh sinar-sinar dari pinggir objek. Sudut pandang 90o merupakan sumbu pandang pada gambar perspektif, dan sudut pandang antara 30o-60o merupakan kerucut pandangnya.
e. Garis cakrawala atau garis horison
Yang dimaksud bidang cakrawala dalam gambar perspektif adalah garis mendatar, dengan ketinggian mata pengamat dan memisahkan gambar yang di atas dan di bawah mata. dengan garis cakrawala.
f. Titik hilang
Titik hilang adalah titik dalam gambar perspektif di mana garis-garis yang sesungguhnya dalam keadaan sejajar akan menghilang menuju titik ini. Objek-objek yang pada kenyataannya sama besar, bila posisinya menjauhi pengamat akan tergambarkan lebih kecil daripada objek yang lebih dekat dengan pengamat. Letak titik hilang segaris lurus dengan garis cakrawala (untuk perspektif satu titik hilang dan dua titik hilang)
g. Titik ukur dan titik diagonal
Titik ukur dalam konstruksi perspektif berfungsi untuk mengukuhkan kedalaman suatu objek dengan akurat. Dengan adanya titik ukur, maka penggambaran perspektif akan lebih akurat. Titik diagonal berfungsi untuk menarik garis yang dalam keadaan normal memiliki sudut 45o, ke dalam gambar perspektif. Biasanya digunakan pada perspektif yang menggunakan bujur sangkar (segi empat sama sisi) sebagai tolok ukurnya.
2.4. METODE KERJA KELOMPOK
Kerja kelompok dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar-mengajar dimana siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran tertentu.
III. METODE PENELITIAN
3.1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di SMPN 2 Kauman , Jalan Sayang Ayu no. 2 Sumoroto Ponorogo . Perencanaan tindakan berdasar refleksi yang ditulis pada proposal dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2011 sampai dengan 26 Februari 2011. Pelaksanaan tindakan dikerjakan mulai pada tanggal 2 Maret 2011 sampai dengan 30 Juni 2011. Jadwal pelajaran dilaksanakan setiap hari Selasa, masing-masing 2x 40 menit (1 kali pertemuan).
3.2. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Kauman Ponorogo dengan jumlah siswa 36 orang. Nama-nama siswa yang terlibat dilampirkan pada lampiran 1. Guru Seni Budaya yang terlibat pada penelitian ini adalah Arum Amiwati, S.Pd. (40 tahun), sebagai observer, dan guru seni budaya kelas VII.
3.3. PROSEDUR PENELITIAN
3.3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas untuk mengkaji dan merefleksikan secara mendalam yang terjadi pada proses pembelajaran Seni dan Budaya yang meliputi performance guru, interaksi guru-siswa, interaksi antar siswa, dan hasil karya siswa. Semua itu untuk menjawab permasalahan penelitian.
Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat langkah, yang meliputi; a) perencanaan, yang berisi rumusan masalah, menentukan tujuan, metode penelitian dan membuat rencana tindakan, b) tindakan , berupa upaya nyata untuk merubah kesalahan/kekeliruan yang telah dilakukan, c) observasi, berupa tindakan pengamatan lapangan untuk mengetahui hasil dan kemajuan dalam proses belajar mengajar, dan d) refleksi, mengkaji secara mendalam dan mempertimbangkan keberhasilan dan merekomendasikan tindakan apa yang harus dilakukan pada siklus berikutnya.
3.1.2. Pelaksanaan Penelitian
Secara operasional prosedur penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam penelitian ini terperinci sebagai berikut:
3.1.2.1 Siklus Pertama
Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1) Perencanaan
Peneliti menyiapkan: a) bahan ajar, b) satuan acara pembelajaran (SAP), c) rencana pembelajaran (RP), d) skenario pembelajaran , e) tugas-tugas individu, f) lembar observasi/penilaian.

2) Pelaksanaan
a) Siswa diberi penjelasan tentang pembelajaran menggambar perspektif dengan metode melacak gambar perspektif . Dalam hal ini siswa diberikan satu lembar copy gambar perspektif.
b) Siswa melacak garis diagonal untuk menemukan garis horizontal dan titik mata
c) Peneliti membantu siswa yang mengalami kesulitan melacak garis horizontal dengan memberikan contoh dari mana titik mata diperoleh dan bagaimana menentukan garis diagonal.
d) Setelah titik mata ditemukan, siswa melacak gambar bantuk dengan menghubungkan semua bentuk dengan titik mata, dan menirukan garis vertikal yang ada di gambar bentuk tersebut. Dalam hal ini, siswa bertugas menambah satu cm dari ukuran yang ada di copy gambar perspektif yang dilacak.
3. Pengamatan
a) Peneliti melakukan observasi setelah semua permasalahan siswa diterangkan kepada masing-masing siswa, yaitu dengan lembar observasi yang berisi; nama, kemampuan siswa melacak garis dan titik mata, kemampuan siswa mereproduksi karya, yang berisi cheklist ; baik sekali, sedang, kurang, dan mencatat semua kejadian dalam proses pembelajaran.
4. Refleksi
a) Peneliti menganalisa dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran siklus pertama dan memberikan penilaian hasil gambar siswa.
b) Mencatat segala kekurangan dan kelemahan dan melakukan perbaikan untuk diterapkan pada siklus berikutnya.
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus I disajikan pada Tabel berikut:
Aspek Target Pencapaian Siklus I Cara Mengukur
Kemampuan melacak gambar perspektif 75% Diamati pada saat siswa membuat garis pada gambar perspektif yg dibagikan kpd siswa
Kemampuan mereproduksi gambar perspektif 75 % Diamati dari gambar reproduksi siswa yang sudah selesai
Ketuntasan hasil belajar 75 % Dihitung dari rata-rata nilai gambar, siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 6 dinyatakan tuntas


Siklus Kedua
Pada siklus kedua dilakukan tindakan-tindakan dengan menggunakan empat tahapan seperti yang telah dilakukan pada siklus pertama. Pada siklus kedua ini didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama. Semua kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak akan diualang kembali dalam siklus kedua.
Beberapa alternatif perbaikan untuk mengoptimalkan metode melacak gambar pada siklus kedua ini diberikan secara mendetail. Diharapkan dengan langkah-langkah pembaharuan pada siklus kedua ini, siswa lebih paham dan termotivasi untuk menggambar perspektif tanpa sedikitpun timbul keraguan atau kekurangpercayaan terhadap dugaan dan angannya.
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus II diuraikan pada tabel berikut ini:
Aspek Target Pencapaian Siklus II Cara Mengukur
Kemampuan melacak gambar perspektif 85 % Diamati pada hasil lacak gambar siswa
Berupa garis-garis perspektif pada lembar tugas yg diberikan
Kemampuan mereproduksi gambar perspektif 85 % Diamati dari gambar reproduksi siswa yang sudah selesai
Ketuntasan hasil belajar 100 % Dihitung dari rata-rata nilai gambar, siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 6 dinyatakan tuntas

3. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: lembar observasi, kuesener terbuka, tes hasil karya menggambar ilustrasi, dan catatan guru selama proses belajar mengajar. Kuesener terbuka digunakan untuk mengawali pembelajaran menggambar dengan metode mencontoh dengan variasi cerita berantai, dan tes hasil karya menggambar digunakan untuk mengetahui kualitas hasil belajar.
Tabel 5 : Sistem Penskoran Hasil Gambar Perspektif
No Kriteria Nilai
1 Garis perspektif tidak tepat pada titik mata (Gambar rusak) 5
2 Gambar reproduksi ada yang menyimpang dari titik mata (Gambar mirip) 6
3 Gambar reproduksi ideal sesuai dengan gambar asli 7

5. Pengumpulan dan Analisa Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi dan tes hasil karya dalam bentuk gambar dan deskripsi cerita. Teknik dokumentasi untuk mengetahui kemampuan masing-masing siswa. Teknik observasi digunakan untuk merekam kualitas proses belajar mengajar dengan menggunakan catatan. Sedangkan tes menggambar dan menulis deskripsi cerita digunakan untuk mengetahui kualitas hasil belajar.
Data hasil observasi , catatan guru, dan hasil karya siswa dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui kualitas belajar mengajar. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan kualitas hasil belajar dilakukan skor individu baik berupa partisipasi siswa dalam proses pembelajaran maupun pada hasil gambar.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Temuan-temuan pada siklus 1
1. Contoh gambar yang diperagakan guru terlalu rumit
2. Contoh penyelesaian gambar perspektif yang diperagakan guru terlalu cepat
3. Siswa kurang mampu dalam menangkap teknik penyelesaian gambar, yang diperagakan guru, karena guru memulai dari bagian bawah
4. Guru kurang memberikan kesempatan siswa untuk bertanya secara individu
5. Siswa banyak yang tidak membawa penggaris panjang
4.2. Rekomendasi Perbaikan untuk Siklus 2
1. Guru memberikan contoh gambar yang sederhana agar mudah dipahami siswa
2. Guru harus memberikan contoh secara pelan-pelan dan berulang-ulang untuk memberikan kesempatan yang luas kepada siswa yang kurang mampu dalam menggambar.
3. Guru sebaiknya menggambar dari bagian atas proyeksi agar tidak membingungkan siswa
4. Guru harus mewajibkan siswa membawa penggaris dan buku gambar
5. Guru memberikan kesempatan yang luas siswa bertanya
4.3. Pelaksanaan Siklus 2
4.3.1. Pelaksanaan
Pada siklus kedua dilakukan tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama. Pada siklus kedua didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang direkomendasikan pada siklus pertama. Pelaksanaan perubahan itu antara lain:
a) Siswa dibagi ke dalam kelompok
b) Peneliti mendemonstrasikan langkah-langkah menggambar konstruksi secara mendalam
c) Peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk melacak gambar perspektif yang telah dibagikan dan dikerjakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dicontohkan guru.
d) Peneliti melakukan observasi kepada masing-masing siswa dan membimbing masing-masing siswa yang kesulitan menggambar.
4.3.2. Pengamatan
a) Peneliti melakukan pengamatan dengan lembar observasi segala aktifitas yang terjadi pada masing-masing siswa
b) Sebelum melakukan penilaian, guru memeriksa hasil gambar siswa
c) Peneliti memberikan penilaian
Tabel 3.2. Indikator keberhasilan proses pada siklus I diharapkan meningkat pada siklus II
Aspek Pencapaian Siklus I Realita Pencapaian Siklus II
Kemampuan mencontoh 75 % 85%
Ketuntasan hasil belajar 75 % 100%
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil implementasi metode yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa:
1. Penggunaan metode melacak gambar konstruksi dapat membngkitkan ide dan gagasan siswa dalam mengeksplorasi kreativitasnya dalam menggambar perspektif. Kemampuan tersebut dapat dibuktikan pada siklus I dengan ketuntasan 75% dan siklus II dengan pencapaian 100%
B. Penggunaan metode melacak gambar dapat dilakukan efektif dan efisien jika guru dapat membimbing secara intensif, serta mampu memberikan contoh yang mudah dalam menggambar perspektif. Dari pengalaman ini peserta didik menjadi senang karena mereka mengetahui cara menggambar perspektif dengan baik dan benar.
C. Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kajian tentang implementasi model siklus belajar dengan model yang telah penulis lakukan di kelas ini dapat disarankan bahwa:
1. Pemecahan masalah kualitas proses dan hasil belajar seni budaya dapat dilakukan dengan mengkombinasikan dua metode mengajar seperti melacak gambar dan metode bimbingan intensif sehingga dapat memberikan jalan mudah dan sekaligus mengurangi kegamangan siswa dalam kegiatan menggambar.
2. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas penggabungan kedua metode ini dapat dilakukan penelitian lanjutan berupa penelitian eksperimental sehingga variabel-variabel yang terlibat dapat dikontrol
3. Jangan ragu menggunakan beragam metode –walau itu dianggap kuno-untuk membantu pemahaman siswa. Karena metode-metode tersebut bersifat kondisional, sehingga masih relevan jika kondisi peserta didik masih memerlukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar